in

“Bawalah Ke Tenda Rufaida !”

Oleh: Muhammad Angga Muttaqien 
(Suami dari seorang perawat muslimah, Penyeksama sejarah Peradaban Islam)

Refleksi Hari Perawat Nasional, Dan Support Kita Bagi Semua Perawat Di Dunia Terkhusus Yang Berjuang Melawan Virus Covid-19.

Salah Satu Lembaran Buku
The Enduring Legacy of Muslim Civilization

Hari ini, 17 Maret, adalah Hari Perawat Nasional. Tepat ketika mengetahui hal ini pikiran saya langsung berkelebat mencari satu sosok ilmuwan muslim yang namanya pernah terukir dengan tinta emas dan tercatat baik dalam sejarah peradaban tinggi yang pernah diraih agama ini, Islam. Maka tersebutlah nama Rufaida Al-Aslamia. Seorang perawat muslim dan ahli bedah pertama di dunia Islam.

Rufaida Al-Aslamiya dan Florence Nightingale

Nama Rufaida ini memang digadang-gadang sebagai salah satu pelopor ilmu keperawatan modern sejajar dengan tokoh barat bernama Florence Nightingale. Namun, Rufaidah sejatinya telah lebih dahulu merintis – dan membesarkan – dunia keperawatan sekitar 12 abad lebih dulu dari Florence di Italia. Rufaida tumbuh dan besar bersama dengan tumbuh dan besarnya agama Islam di bawah payung dakwah Rasulullah dan para sahabat.

Keterampilan dalam merawat berhasil dikodifikasi oleh Rufaida menjadi satu perangkat ilmu dan terinstitusi dalam pendidikan sekolah. Di abad itu, memang bumi ini sudah diduduki oleh dua imperium adidaya yaitu Romawi dan Persia, namun nama Rufaida lah yang tampil tercatat sebagai satu tokoh yang mempelopori ilmu keperawatan modern yang berkembang hingga hari ini.

Rufaida, Perawatnya para Mujahid

Membersamai masa-masa perjuangan Rasulullah, Rufaida membangun tenda perawatan yang pertama kali muncul saat perang Uhud. Ini tercatat sebagai tenda perawatan lapangan pertama dalam sejarah perjuangan Islam. Ya, seringnya kita mendengar kisah-kisah heroik dalam perang itu didominasi oleh kaum laki-laki. Namun di belakang, tenda-tenda perawatan yang mayoritas diisi oleh perempuan itu hadir memberikan peran yang besar untuk mengurangi jumlah korban nyawa akibat tidak adanya tindakan medis yang siaga. Diceritakan, ketika sahabat Sa’ad bin Muadz, sang Tameng Rasulullah, harus tertancap dadanya oleh panah, Rufaida mengambil peran untuk menghentikan aliran darah yang ada lebih dahulu.

Ia membiarkan panah itu tetap menamcap di dadanya karena ia tahu betul teknik pengobatan dengan biak. Jika dicabut, darah akan mengucur tanpa henti dan akan mengancam nyawa. “Bawalah ke tenda Rufaida!“, begitu seru Rasullah.

Rufaida, Pendiri Sekolah Keperawatan Pertama

Di masa tenang paska perang, Rufaida tetap berdedikasi dengan keterampilan keperawatan yang ditekuninya. Cara berpikirnya tajam menatap jauh ke depan, bahwa Ilmu keperawatan ini harus berkembang dan dikuasai oleh umat Islam. Maka ia berpikir untuk menginstitusikan ilmunya dengan mencetus sekolah keperawatan pertama di dunia Islam. Lokasinya tidak jauh dari masjid Rasulullah dimana didirikan pula rumah sakit Rufaidah.

Di sekolah itu, Rufaida mendidik perempuan-perempuan muslimah yang tertarik dengan ilmu keperawatan dan menginspirasi mereka untuk menjadi sosok perempuan tangguh dan terdidik! Di sekolah ini pula Rufaida mengkodifikasi kode-kode etik dalam ilmu keperawatan yang kemudian membawa inspirasi hingga ilmu kesehatan terus berkembang dan puncaknya di masa Islam dimana Ibnu Sina terlahir.

Untuk rekan-rekan perawat muslim, sosok Rufaida ini bisa dijadikan role model yang sangat baik sekali untuk terus dihayati lebih dalam dan diambil inspirasinya. Sayangnya, saya tidak banyak menemukan literatur yang mengulas jauh tentang kehidupan seorang Rufaida hingga sampai pencarian terakhir, saya menemukan nama Rufaida ini diulas jasanya di dalam buku Theoretical Nursing karya Afaf Ibrahim Meleis, PhD., seorang Professor of Nursing and Sociology di University of Pennsylvania. Ya, memang tidak banyak, namun setidaknya pencarian ini kembali mampu menguatkan kesimpulan saya selama ini bahwa Islam adalah agama yang sangat menjunjung tinggi segala macam ilmu pengetahuan yang mampu memberikan manfaat untuk memakmurkan bumi, tanpa terkecuali. Wallahu A’lam.

Terakhir, melalui ulasan ini pula saya ingin menyampaikan selamat Hari Perawat Nasional untuk mereka-mereka para perawat yang senantiasa berjuang di garda terdepan untuk memastikan semua umat manusia senantiasa sehat, tanpa terkecuali!

Anyway, bagi saya pribadi Rufaida adalah nama yang sangat cantik untuk seorang bayi anak perempuan. 🙂

*Foto di atas saya ambil langsung malam ini dari buku berjudul The Enduring Legacy of Muslim Civilization dan merupakan gambar manuskrip dari halaman awal kitab Al-Qanun fi Al-Tibb (The Code of Laws in Medicine) masterpiece yang diterbitkan oleh Ibn Sina (Avicenna) dokter ternama di dunia Islam pada sekitar abad ke-11, masa di mana seorang ilmuwan seperti Galileo Galilei harus mendekap di penjara seumur hidup karena kukuh mempromosikan teori Heliosentris-nya di tanah Eropa

Tinggalkan Balasan

Loading…

0

Comments

0 comments

KAMMI Bengkulu : Penyebaran Virus Covid-19 Bisa Lemahkan Ekonomi Nasional, Jika ?

Pemerintah Provinsi Bengkulu Siapkan Posko Penanganan Korona