in

Khutbah Jum’at: “Jaminan Surga dari Rasulullah SAW”

Oleh: Dr. Derysmono, Lc., S.Pd.I., M.A.
(Sekretaris Umum PP Himpunan Dai Muda  Indonesia, Pembina Lembaga Pendidikan Islam Raudhotul Quran Azzam)

Khutbah ke-I

Khutbah ke-I

Ma’asyirol Muslimin rahimakumullah
Segala puji Allah Maha Pengasih dan Maha Penyayang, yang telah banyak memberikan kenikmatan, hidayah, taufiq dan kasih saying-Nya kepada kita.di antara sekian banyak nikmat Allah SWT yang diturunkan kepada umat manusia, nikmat Al-Qur’an al-Karim, Al-Qur’an menerangi kita dari kegelapan menuju cahaya Islam, sebaik-baik teman dan bacaan, sejak dari dunia, barzakh hingga akhirat menjadi syafaat siapa yang membacanya.

Nikmat yang agung itu pula adalah diutusnya Rasulullah SAW, penutup para nabi dan Rasul, Shalawat dan salam kepada beliau, keluarganya, sahabat beliau dan para pengikut dan orang-orang yang mencintainya hingga hari akhir nanti.

Khatib berwasiat kepada diri khatib dan kepada jama’ah yang hadir pada saat ini, marilah kita senantiasa meningkatkan mahabatullah yaitu mencintai Allah dengan sebenar-benarnya, muroqobatullah yaitu merasa diawasi dan diperhatikan oleh Allah SWT, dzikrul maut yaitu mengingat kematian, sehingga ujung dari itu semua adalah taqwa Allah yaitu taqwa kepada Allah SWT.

Ma’asyirol Muslimin rahimakumullah Allah SWT berfirman dalam al-Qur’an, “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk. Balasan mereka di sisi Rabb mereka ialah surga ‘adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha terhadap mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Rabbnya.”(QS. Al Bayyinah: 6-8).

Dalam ayat ini, ayat yang sering kita dengar ini, Allah SWT mengungkapkan akan menyediakan surga bagi orang beriman dan beramal shalih. Balasan yang sempurna. Kenikamatan yang tak terhingga. Surga Allah SWT yang nikmatnya tak dapat digambarkan dengan kata-kata. Pesonanya tak pernah dilihat oleh mata, tak pernah terdengar oleh telinga dan tak gambarannya tak terbesit dalam pandangan.

Namun pertanyaannya, adakah jaminan bahwa pasti amalan kita diterima oleh Allah SWT?! Adakah jaminan bahwa kita pasti masuk surga-Nya Allah SWT?! Adakah jaminan kita bisa Bersama dengan Nabi Muhammad SAW?! orang yang teramat kita rindukan pertemuannya Jawabannya: Wallahu A’lam “hanya Allah yang mengetahuinya”.

Jika kita cermati hadits-hadits Rasulullah SAW, bahwa rupanya ada amalan-amalan yang apabila kita kerjakan, maka Rasulullah SAW akan menjadi surga bagi kita, bahkan Rasulullah SAW akan menjamin suatu rumah bagi orang yang mengamalkan amalan tersebut. Lalu amalan apakah gerangan?

Ma’asyirol Muslimin rahimakumullah
Dalam sebuah hadits Rasulullah SAW,

Dari Abu Umamah, ia berkata, Rasulullah saw. bersabda, “Aku akan menjamin rumah di tepi surga bagi seseorang yang meninggalkan perdebatan meskipun benar. Aku juga menjamin rumah di tengah surga bagi seseorang yang meninggalkan kedustaan meskipun bersifat gurau. Dan aku juga menjamin rumah di surga yang paling tinggi bagi seseorang yang berakhlak baik.” (H.R. Abu Daud).

Ma’asyirol Muslimin rahimakumullah

Pada poin pertama : meninggalkan perdebatan meskipun benar “Aku akan menjamin rumah di tepi surga bagi seseorang yang meninggalkan perdebatan meskipun benar. Dalam hadits yang lain, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Barangsiapa yang meninggalkan perdebatan sementara ia berada di atas kebatilan, maka Allah akan bangunkan sebuah rumah baginya di pinggiran surga.

Dan barangsiapa yang meninggalkan perdebatan padahal dia berada di atas kebenaran, maka Allah akan membangun sebuah rumah baginya di atas surga.” Shahih at-Targib wat Tarhib. Siapa yang dari kita tak ingin rumah di surga Allah SWT?! Siapa dari kita yang tak ingin membangun istana di surga-Nya?! Tentunya kita semua mau, kita semua ingin memilikinya.

Ma’asyirol Muslimin rahimakumullah
Debat itu sendiri ada dua macam, debat yang ini mengalahkan orang lain dan memenangkan kelompoknya agar terlihat dia yang lebih unggul. Kedua adalah debat yang ingin mencari kebenaran dan keridhoan Allah.

Di masa media sosial yang sangat terbuka, orang bisa mengatakan dan berpendapat apa saja, sehingga perkataan dan tulisan yang tak terkendali, membabi buta menghina, mengkerdilkan, mengcela siapa saja. Tak cukup di situ, masing-masing sibuk membela kelompoknya, menghabiskan waktu berhari-hari, menguras tenaga dan perhatian, hanya untuk memenangkan kelompoknya masing-masing.

Padahal baik yang berdebat maupun yang didebat sama-sama muslim. Hadirin, inilah contoh 5 dari macam debat yang pertama. Adapun yang macam debat kedua ada di dalam alQuran, Allah berfirman “Serulah (manusia) kepada jalan Rabb-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.” (QS. An-Nahl: 125).

Di antara sekian banyak ujian, ialah ujian banyaknya ilmu, merasa bahwa lebih banyak ilmu ketimbang orang lain, sehingga ingin berdebat kepada siapa saja, seolah tak ada lawan dan tandingannya. Padahal perdebatan hanya akan membuat kita termasuk golongan orang-orang yang dibenci oleh Allah SWT.

Ma’asyirol Muslimin rahimakumullah
Dalam hadits ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda “Orang yang paling dibenci oleh Allah adalah orang yang paling keras debatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Padahal dalam hidup ini yang kita cari adalah ridho Allah, cinta Allah, bukan benci dan marah-Nya Allah. Tak usahkan benci-Nya Allah, bencinya makhluk saja kita tak sanggup menghadapinya apalagi ini Tuhan alam semesta, Allah sang Maha luas dan Maha besar keangungannya. Hendak kemana kita lari Ketika semua alam ini milikNya?! Jika kita berkeinginan mendapatkan rumah di surga Allah, jika kita ingin mendapat jaminan dari Rasulullah SAW agar dapat memasuki surga-Nya Allah, maka hendaknya kita jauhi perdebatan.

Ma’asyirol Muslimin rahimakumullah
Poin yang kedua adalah meninggalkan kedustaan meskipun hanya bercanda. Aku juga menjamin rumah di tengah surga bagi seseorang yang meninggalkan kedustaan meskipun bersifat gurau.

Rasulullah SAW adalah orang yang juga bergurau dan bercanda kepada sahabatsahabat beliau, hal ini didasari oleh hadits Rasulullah SAW, Telah menceritakan kepada kami [Yunus] telah menceritakan kepada kami [Laits] dari [Muhammad] dari [Sa’id bin Abi Sa’id] dari [Abu Hurairah] dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Aku tidak berkata kecuali kebenaran, ” sebagian sahabatnya berkata; “Sesungguhnya engkau bercanda dengan kami wahai Rasulullah, ” maka beliau bersabda: “Aku tidak berkata kecuali kebenaran.” Musnad Ahmad hadis nomor 8125.

Bercanda itu merupakan kebutuhan dasar dari interaksi manusia dengan manusia lainnya, namun hendaknya candaan yang dimaksud tidak membawa mudharat, tidak melukai orang lain, tidak berbohong, dan candaan yang membawa manfaat dan masalahat karena ada pesan yang didapatkan.

Ma’asyirol Muslimin rahimakumullah
Di zaman kita sekarang begitu banyak orang yang bercanda disertai dengan kebohongan dan penipuan, dengan harapan orang yang diajak bercanda agar tertawa dan tersenyum, padahal dahulu sudah diingkatkan oleh Rasulullah SAW, Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Celakalah seseorang yang berbicara dusta untuk membuat orang tertawa, celakalah ia, celakalah ini. HR Ahmad, At-Timizi, Abu Daud.

Jikapun ingin bercanda, tentu ada adab-adabnya. Jika ingin bergurau, tentu ada tata aturannya. Jangan sampai ada orang yang niatnya hanya bercanda, tetapi rupanya orang yang diajak bercanda tersinggung, maka dilaporkannya orang yang bercanda ke kepolisiam. Buka dia yang ketawa, tapi justru kita yang menangis. Menangis di dalam ruang jeruji besi.

Ma’asyirol Muslimin rahimakumullah
Poin yang ketiga adalah orang yang paling tinggi berakhlak baik. Dan aku juga menjamin rumah di surga yang paling tinggi bagi seseorang yang berakhlak baik.” (H.R. Abu Daud). 7 Tak hanya mendapatkan istana bagi orang-orang berakhlaq baik, tapi istana dan rumah yang paling tinggi.

Inilah salah satu isyarat dari Allah ta’ala dalam hadits ini. Dari sekian banyak tugas Rasulullah SAW adalah menyampaikan dakwah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda “Sesungguhnya aku hanyalah diutus untuk menyempurnakan akhlak yang luhur.” (HR. Ahmad dan Al-Bukhari) Inilah tuntunan seharusnya bagi seorang muslim, berakhlaq mulia, bertutur kata yang baik, berkarakter islami, berbuat baik kepada sesama manusia.

Tak hanya mendapat rumah di surga, tapi juga dapat berdampingan dan berdekatan dengan Nabi SAW di surga-Nya Allah SWT. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya yang paling aku cintai di antara kalian dan paling dekat tempat duduknya denganku pada hari kiamat adalah mereka yang paling bagus akhlaknya di antara kalian.” (HR. Tirmidzi no. 1941. Dinilai hasan oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jaami’ no. 2201.)

Kita berharap dan meminta kepada Allah SWT agar diberikan hidayah dan kemampuan dalam menggapai ridho dan surga-Nya Allah. Aamiin Ya Rabbal A’lamin.

khutbah ke-II

Khutbah Ke-II

Tinggalkan Balasan

Loading…

0

Comments

0 comments

Ajak IPWL Dwin Foundation, Kepala Bapaslu Hadiri FGD Pokmas Lipas Ditjenpas 2020

Muktamar Pemuda PUI Hasilkan Ketua Baru, Bersatu Rangkul Pemuda Islam Dari Nusantara Hingga Dunia