in ,

“Merdeka” Di Batu Loreng

Oleh: Azis Suhendar, S.Sos
Diceritakan Sepenggal Pengalamannya KKN Di Batu Loreng Pada Status Whatsappnya

Teringat 10 tahun lalu. Daerah utara pulau Sulawesi ratusan kilometer sebelum Manado. Desa Batu Loreng yang saya lupa nama kecamatannya, pastinya Provinsi Gorontalo. Sesampainya di papan nama bertuliskan Desa Tohupo perbatasan sebelum Batu Loreng. Saya dan tim turun dari mobil, dipikir sudah sampai, ternyata belum “tunggu sebentar” katanya, “ada yang jemput sebentar lagi” mobil yang mengantar pun berlalu, kami pun bingung. siapa yang akan jemput?

Gerobak Transportasi Andalan

Tak selang beberapa menit kemudian datanglah sapi dan gerobak. Yang kami pikir itu warga ang akan menjemput, dan ternyata benar. Gerobak itu menjadi transportasi kami untuk ke Batu Loreng. Karena sudah 3 hari sebelum kedatangan kami, jembatan penghubung desa putus diterjang banjir.

Setelah menempuh perjalanan yang disuguhi keindahan alam bukit hijau kombinasi aliran sungai. Akhirnya kami sampai juga di Batu Loreng. Sebuah Desa yang “merdeka” ditahun 2010 saja masih tanpa listrik dan susah sinyal handphone seluruh provider.

Membicarakan susah sinyal ada kearifan lokal yang unik bin ajaib disana. Kalo mau Hp kita hidup bersinyal disana harus melakukan ritual ini, caranya dengan memasukan Hp anda ke dalam gelas. Awalnya ga percaya kami semua terkikik menahan tawa, tapi apa boleh dikata Hp memang perlu daya untuk komunikasi kita. Daan taraa seketika setelah Hp kita dimasukkan kedalam secangkir gelas alhasil bunyi sms pun tiba luaar biasa aneh memang. Ajaibnya lagi teknik ini hanya berlaku untuk dapat menerima kiriman sms saja dering telepon jangan ditunggu tak akan pernah ada yang masuk, begitu penjelasan warga disana. Walaupun tidak bisa di telepon setidaknya ada sms yg bisa dibaca. Alhamdulillah.

Kemerdekaan Batu Loreng dari listrik dan sinyal Hp ini menyadarkan kami, bahwa ternyata kita sangat tergantung dengan listrik, hidup tanpa listrik seperti hidup tanpa cinta. Malam di batu loreng terasa lebih panjang dari 1001 malam.

Dibalik kegelapan malam di Batu Loreng masih juga menyisakan cahaya bulan dan bintang yang lebih terang dari seluruh desa didunia ini. Masyarakat Batu Loreng bisa mengetahui musim dan kapan banyak babi hutan hanya dengan melihat rasi bintang dimalam hari. Sedikit demi sedikit kami belajar dari orang – orang di Batu Loreng menjalani hidup tanpa listrik, susah memang. Tapi tak lebih susah dari zaman Covid-19 ini.

Satu lagi bintang terang di Batu Loreng, ada seorang bocah kidal yang setiap kami pergi selalu membuntuti. Bocah berbakat itu menjadi pemandu kami dari satu rumah ke rumah yang lain. Dari satu Desa ke Desa yang lain. Dengan akses yang sulit ditempuh untuk kami yang cuma terbiasa kuliah kotsan kuliah kotsan kalah oleh bocah kidal itu. Belum lagi dari satu tempat ke tempat yang lain itu kami harus melewati halang rintangan. Akses jalan berbatu kali yang tajam membuat jalan yang kami tempuh terasa lebih lama dan jelas tidak selurus mulus jalanan Mlioboro. Disini mendaki bukit lewati lembah dan harus menyebrang sungai karena tak ada akses jembatan menjadikan kami paham begini kenikmatan jadi Mapala.

Dok Azdar

Segudang cerita sebenarnya masih tersimpan dikepala yang belum sempat tertulis tentang “Merdeka” lainnya di Batu Loreng. Menjadi kenangan yang tersimpan 10 tahun ini. Sampai akhirnya di tahun 2017 saya diberi kesempatan berkunjung lagi. Sekarang listrik dan jalan Desa pun sudah membaik sudah tidak gelap lagi dan sinyal Hp tak perlu gelasnya lagi. Merdeka sebenarnya Batu Loreng. (IH)

Tinggalkan Balasan

Loading…

0

Comments

0 comments

29 Kemenangan Tanpa Kekalahan, Khabib Akhiri Karirnya Sebagai Petarung

Pose 3M Cegah Covid-19, Ketua MPW PP Dituding Kampanye