in

Merenungi Makna New Normal, Dan Mengambil Porsi Kita di Dalamnya

Oleh: Naz

Mahasiswa S-2 Prodi Damai dan Resolusi Konflik Cohort 9 Universitas Pertahanan

Linkkan.com – Belakangan, kata-kata ‘new normal’ mulai akrab di telinga kita, terlebih bagi yang sering mengikuti perkembangan pemberitaan mengenai pandemi Covid-19 di televisi maupun media online.

Lalu apa yang sebenarnya disebut dengan ‘new normal’? Apakah ‘new normal’ merupakan pembaharuan pada situasi normal, sebagaimana lazimnya fungsi kata ‘new’ yang dilekatkan pada kata-kata lain yang dapat dimaknai sebagai pembaharuan? Lalu apakah dengan adanya ‘new normal’, maka kita tidak dapat kembali lagi pada ‘old normal’?

Bagi penulis, new normal secara singkat dapat dimaknai sebagai langkah ‘cautiously back to normal’. Mengapa cautiously? Obviously karena kita sedang berada di tengah pandemi yang belum diketahui dimana ujungnya. Alasan ini pula yang menjadikan sebagian pihak mempertanyakan mengapa kebijakan new normal diterapkan pada masa pandemi, karena dinilai berpotensi meningkatkan penularan Covid-19 secara lebih massif.

Padahal, ini pula yang menjadi alasan utama penerapan new normal. New normal diterapkan karena pandemi ini belum jelas kapan akan berakhir, sementara pembatasan-pembatasan tidak mungkin terus-terusan dilakukan untuk mencegah meluasnya penularan Covid-19.

Rasanya kita tidak perlu membahas angka-angka prediksi penurunan ekonomi dan potensi krisis global akibat pembatasan yang rumit dipahami, seperti yang disebutkan lembaga-lembaga kelas wahid misalnya IMF, JP Morgan dan sebagainya. Kesulitan akibat pembatasan dapat dirasakan oleh kita sendiri pada level individu, misalnya kebosanan berada terus-terusan di rumah tanpa interaksi langsung dengan orang lain.

Selain itu, hal paling kecil yang terasa dampaknya selama pembatasan adalah tutupnya toko-toko ritel lebih awal, misalnya Indmaret dan Alfmart selepas Magrib. Bukankah sangat terasa repotnya saat anak-anak merengek minta dibelikan knder joy selepas Magrib, padahal selama kita tahu, paling mudah menemukan knder joy di dua toko ritel tersebut?

Jika new normal dapat dimaknai sebagai ‘cautiously back to normal’, lalu bagaimana agar new normal tidak berdampak pada gagalnya upaya pemerintah menangani pandemi Covid-19? Di sini lah sebenarnya fungsi dari kata ‘cautiously’. Kehidupan normal harus dilaksanakan dengan sangat penuh kehati-hatian, atau dalam bahasa bekennya sekarang, menerapkan protokol kesehatan.

Selain itu, kehidupan normal diprioritaskan pada hal-hal penting dan mendesak saja. Kita dapat bekerja kembali seperti biasa, dengan syarat tetap memperhatikan penerapan social distancing, tidak berjabat tangan, rajin mencuci tangan, dan tanggap terhadap gejala kesehatan yang ditunjukkan oleh tubuh kita, dengan segera memeriksakannya ke fasilitas kesehatan terdekat.

Lalu setelah new normal diterapkan, apa porsi kita di dalamnya sebagai warga negara? Porsi kita yang pasti bukanlah mengkritisi kebijakan pemerintah secara brutal tanpa adanya dasar saintifik yang jelas, terlebih kita tidak memiliki latar belakang disiplin ilmu yang relevan dan kritik yang dilakukan tidak disalurkan melalui kanal yang tepat, misalnya melalui media sosial.

Kritik yang disalurkan tidak melalui kanal yang tepat pada akhirnya bukan berdampak pada perbaikan situasi, tetapi justru menimbulkan provokasi-provokasi yang tidak berguna di saat pandemi ini. Adalah sebuah ironi saat ini jika sebagian orang secara brutal mengkritisi pemerintah, menganalogikannya sebagai total catastrophe dan membandingkan dengan negara-negara yang dianggap berhasil menangani pandemi seperti Vietnam dan Korea Selatan.

Di sisi lain kita tidak pernah bertanya kepada diri kita, apakah kita sudah menjadi warga negara yang baik seperti warga negara Vietnam dan Korea Selatan yang patuh terhadap aturan? Berapa banyak di luar sana orang yang masih berkeliaran tanpa menggunakan masker, tidak mengindahkan social distancing? Padahal mungkin di media sosialnya, dia sibuk melempar kritik tak berdasar terhadap pemerintah, melakukan panic buying dan hal-hal destruktif lainnya.

Porsi kita dalam new normal sebagai warga negara yang baik adalah ‘taat’. Sebuah kata yang mudah diucapkan, tetapi sulit dilakukan. Meskipun sulit, ini tetap harus dilakukan. Terlepas kita suka atau tidak terhadap aturan yang diterapkan dalam masa new normal, kita harus tetap taat agar pandemi ini cepat berakhir dan kita dapat kembali ke old normal.

Di media sosial, viral meme yang bertuliskan bahwa dalam pandemi Covid-19 ini ibarat kita semua berada dalam badai yang sama. Penulis tidak sepenuhnya setuju dengan meme ini, karena pandemi Covid-19 ini tidak terlalu mirip dengan badai. Badai merupakan bencana yang totally beyond our control, sementara pandemi sebenarnya dapat kita hentikan dengan upaya-upaya yang secara serius kita lakukan.

Menurut penulis, kunci keberhasilan menghentikan pandemi ini adalah kebersamaan dan rasa saling percaya satu sama lain. We already have each other, but if we don’t trust each other, it doesn’t mean anything. Tidak ada orang di dunia ini yang ingin hidup terus-terusan dalam pandemi. Artinya, setiap pihak yang terlibat dalam penanganan pandemi pasti sudah melakukan upaya terbaiknya. Porsi kita adalah untuk percaya pada upaya tersebut, dan membantu mereka dengan ketaatan terhadap aturan, sambil berdoa agar pandemi ini cepat diangkat dari muka bumi.(IH)

Tinggalkan Balasan

Loading…

0

Comments

0 comments

DRK Berbagai Ditengah Pandemi, Salurkan Bantuan Ke Panti Asuhan

Aksi Gandhi, Diamnya Ditakuti (Era Perjuangan Kemerdekaan India)