in

Pengertian Dan Prinsip Giro Wadi'ah

Pengertian Wadi`ah menurut bahasa adalah berasal dari akar kata Wada`a yang berarti meninggalkan atau titip.  Sesuatu yang dititip baik harta, uang maupun pesan atau amanah. Jadi wadi`ah adalah titipan atau simpanan.

Pengertian wadi`ah menurut Syafii Antonio (1999) adalah titipan murni dari satu pihak kepihak lain, baik individu maupun badan hukum yang harus dijaga dan dikembalikan kapan saja si penitip mengkehendaki. Menurut Bank Indonesia (1999) adalah akad penitipan barang/uang antara pihak yang mempunyai barang/uang dengan pihak yang diberi kepercayaan dengan tujuan untuk menjaga keselamatan, keamanan serta keutuhan barang/uang. Jadi, yang dimaksud giro wadiah adalah giro yang dijalankan berdasarkan akad wadiah, yakni titipan murni yang setiap saat dapat diambil jika pemilik menghendaki.

Dalam kaitannya dengan produk giro, bang syariah menerapkan prinsip wadiah yad dhamanah, yakni nasabah bertindak sebagai penitip yang memberikan hak kepada bank syariah untuk menggunakan atau memanfaatkan uang ataunbarang titipannya, sedangkan bank syariah bertindak sebagai pihak yang dititipi yang disertai hak untuk mengelola titipan dengan tampa mempunyai kewajiban memberikan bagi hasil dari keuntungan pengelolaan dana tersebut. Namun demikian, bank syariah diperkenankan memberikan insentif berupa bonus dengan catatan tidak disyaratkan sebelumnya.

Dari penjelasan di atas, dapat dinyatakan beberapa ketentuan umum giro wadiah sebagai berikut:

1)   Dana wadiah dapat digunakan oleh bank untuk kegiatan komersial dengan syarat bank harus menjamin pembayaran kembali nominal dana wadiah tersebut.

2)   Pemilik dana wadiah dapat menarik kembali dananya sewaktu-waktu (on call), baik sebagai atau seluruhnya.

3)   Keuntungan atau kerugian dari penyaluran dana menjadi hak milik atau ditanggung Bank, sedang pemilik dana tidak dijanjikan imbalan dan tidak menanggung kerugian. Bank dimungkinkan memberikan bonus kepada pemilik dana sebagai suatu insentif untuk menarik dana masyarakat tapi tidak boleh diperjanjikan di muka.

4)   Bank harus membuat akad pembukaan rekening yang isinya mencakup izin penyaluran dana yang disimpan dan persyaratan lain yang disepakati selama tidak bertentangan dengan prinsip syariah. khusus bagi pemilik rekening giro, bank dapat memberikan buku cek, bilyet giro,dan debit card.

5)   Bank dapat membebankan biaya kepada nasabah biaya administrasi berupa biaya-biaya yang terkait langsung dengan biaya pengelolaan rekening antara lain biaya cek/bilyet giro, biaya materai, cetak laporan transaksi dan saldo rekening, pembukaan dan penutupan rekening.

6)   Bank memiliki hak atas keuntungan dan bertanggungjawab pula atas kerugian dari pengelolaan dana tersebut. Namun tidak diperbolehkan mengalami saldo negative (overdraft). Pemilik dana tidak dijanjikan imbalan dan tidak menanggung kerugian. Bank dimungkinkan memberikan bonus kepada pemilik dana sebagai bentuk insentif untuk menarik dana masyarakat tapi tidak boleh diperjanjikan sebelumnya.

Seperti yang telah dikemukakan di atas, bank dapat memberikan bonus atas penitipan dana wadiah. pemberian bonus dimaksud merupakan kewenangan bank dan tidak boleh diperjanjikan di muka.

Jadi kesimpulan ketentuan umum giro berdasarkan wadi’ah adalah: 

1.  Bersifat titipan.

2.  Titipan bisa diambil kapan saja (on call).

3.  Tidak ada imbalan yang disyaratkan, kecuali dalam bentuk pemberian (‘athaya) yang bersifat sukarela dari pihak bank.

This post was created with our nice and easy submission form. Create your post!

Tinggalkan Balasan

Loading…

0

Comments

0 comments

Roadshow ke 10 kabupaten/kota se-provinsi Bengkulu, DPW PKS intruksikan All out bahu-membahu LANJUTKAN pembangunan Provinsi Bengkulu

Jual Beli Emas secara Tidak Tunai