in

Press Release pemaparan hasil Riset #IDEAStalk Oktober 2019. ‘Tanah Untuk Rakyat, Utopia Reformasi Agraria’ (Bagian-2 habis)

fresh city background

Linkkan.com – Lanjutan dari bagian pertama berisi pemaparan Direktur IDEAS. Kali ini pada bagian kedua berisi pemaparan Peneliti IDEAS. Sebagai informasi bagi Linkkizen.

Indonesia Development and Islamic Studies (Ideas) adalah Lembaga think tank tentang pembangunan nasional dan kebijakan publik berbasis ke-Indonesia-an dan ke-Islam-an. Yang didirikan dan bernaung dibawah Yayasan Dompet Dhuafa.

Disamping permasalahan pada bagian pertama rilis ini. Tak kalah pentingnya adalah hak atas tanah untuk tempat tinggal. Adalah salah satu hak mendasar warga negara. Pada perubahan kedua UUD 1945. Konstitusi menetapkan bahwa setiap warga negara berhak membentuk keluarga dan melanjutkan keturunan melalui perkawinan yang sah (pasal 28B ayat 1).

Serta berhak hidup sejahtera lahir dan batin, bertempat tinggal dan mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat. Serta memperoleh pelayanan kesehatan (pasal 28H ayat 1).

Namun hingga 2010, dari 61,2 juta rumah tangga. Masih terdapat 17,5 persen rumah tangga yang luas lantai tempat tinggal per kapita nya kurang dari 8 meter persegi. Di saat yang sama, masih terdapat 6.8 persen rumah tangga yang luas lantai tempat tinggalnya kurang dari 20 meter persegi. Rumah sempit keluarga miskin banyak ditemui di kawasan timur seperti daerah Papua, serta kawasan perkotaan besar yang padat, termasuk Jakarta.

Menurut Meli Triana Devi, Peneliti IDEAS, akar masalah utama sulitnya menurunkan kemiskinan di pedesaan khususnya. Adalah distribusi tanah yang sangat terkonsentrasi di segilintir elit. Dengan sebagian besar masyarakat pedesaan masih menggantungkan penghidupannya pada sektor pertanian, penguasaan lahan menjadi krusial dalam peningkatan pendapatan masyarakat pedesaan.

Meli Triana juga menambahkan bahwa pada 2018, 58,7 persen RTUP hanya memiliki lahan pertanian kurang dari 0,5 hektar. Terdapat kecenderungan kuat antara petani gurem dengan terbatasnya lahan sawah. Daerah dengan konsentrasi petani gurem tinggi banyak ditemui di daerah sentra padi, terutama di Jawa, seperti Tasikmalaya, Bojonegoro, dan Indramayu.

Di akhir, Meli Triana memberikan pendapat bahwa seharusnya arah kebijakan utama adalah mempertahankan dan mengembangkan skala kecil di Jawa. Yang harus difasilitasi dengan land reform.

“Arah kebijakan ini tidak hanya akan menjamin ketahanan pangan nasional namun juga akan menurukan kemiskinan dan kesenjangan secara mengesankan” jelas Meli Triana.(PWR)

Tinggalkan Balasan

Loading…

0

Comments

0 comments

Press Release Pemaparan Hasil Riset #IDEAStalk Oktober 2019. ‘Tanah Untuk Rakyat, Utopia Reformasi Agraria’ (Bagian-1).

IDEAS: Puluhan Juta Hektar Lahan Dikuasai ‘Kapital Raksasa’ (Bagian-1)