in ,

Review Film, Cut Nyak Din

Bagaimana bisa hidup bahagia,

jika yang menjadi korban adalah jutaan nyawa manusia,

akibat dari adanya nafsu untuk berkuasa?

Cut Nyak Din
Oleh: Hana Syifa Rani
Mahasiswa S-2 Prodi Damai Dan Resolusi Konflik
Universitas Pertahanan Indonesia

Film Cut Nyak Dien merupakan salah satu film yang merupakan arsip visual sejarah. Bangsa Indonesia. Film ini menggambarkan tentang kegigihan salah satu tokoh pahlawan wanita di Indonesia yang mengambil latar belakang di provinsi Nangroe Aceh Darussalam yang dikenal dengan nama Cut Nyak Dien.

wikipedia

Perjuangan Cut Nyak Dien merupakan perjuangan melawan kolonialisme Belanda di tanah yang merupakan ujung barat batas negara Indonesia, yang dibersamai dengan suaminya yaitu salah satu tokoh nasional Indonesia dan bergelar panglima, Teuku Umar.

Cut Nyak Dien dan Teuku Umar bersama-sama berjuang dalam memberikan komando bagi para pejuang di Nangroe Aceh Darussalam serta melakukan proses diplomasi dialogis dengan pihak Belanda. Cut Nyak Dien merupakan sosok pejuang yang menganut nilai-nilai dan ajaran agama Islam dalam perjuangan yang ia sebut dengan jihad fi sabilillah.

Perjuangan kemerdekaan dengan landasan jihad fi sabilillah adalah perjuangan merebut kemerdekaan Indonesia dengan berlandaskan keimanan, sehingga apabila kematian adalah harga yang harus dibayar, tidak ada rasa gentar karena mati dalam kondisi keimanan.

Dalam tiap perjuangannya, ia melakukannya dengan berlandaskan dakwah Islam sebagai agama yang rahmatan lil alamin atau rahmat bagi seluruh semesta dalam memperjuangkan kemerdekaan dan kedaulatan Nangroe Aceh Darussalam yang merupakan salah satu Daerah Istimewa di Indonesia.

Cut Nyak Dien memiliki keyakinan yang kuat atas dasar keimanan terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan menjadi kobar semangat bagi para pejuang pengikut lainnya. Sebagai seorang pahlawan wanita, Cut Nyak Dien merupakan sosok yang cerdas dan memiliki stategi yang brilian.

Cut Nyak Dien menerapkan komunikasi efektif dalam perundingan dengan Belanda dan bagaimana cara yang tepat mengambil hati dan mengelabui musuh dengan pola komunikasi yang diterapkannya. Dengan demikian, Cut Nyak Dien dipercaya sebagai seorang pemimpin bagi para pejuang kemerdekaan Nangroe Aceh Darussalam yang bersenjatakan pisau rencong, senjata tradisional khas aceh dalam melawan senapan angin milik Belanda dalam menghadapi kebengisan Belanda yang tidak segan untuk membunuh dan mengorbankan nyawa manusia.

Cut Nyak Dien merupakan sosok wanita yang memiliki intuisi yang tepat dalam
mengambil tindakan dan keputusan. Ia mampu memahami strategi dan taktik dan turut memenuhi apa yang dibutuhkan oleh pasangannya, Teuku Umar dalam perjuangannya. Misalnya ketika berusaha mengetahui dimana Belanda menyimpan kekuatan dan kekayaannya serta bagaimana cara turut dapat menguasainya dan menggunakannya untuk kepentingan kemerdekaan Bangsa Indonesia.

Cut Nyak Dien juga menerapkan pola persuasi yang pas yang menjadikannya sosok pahlawan wanita yang berpengaruh dan berkarakter lugas. Kepemimpinan Cut Nyak Dien banyak menerapkan pengambilan keputusan strategis dalam perjuangannya melawan penjajahan Belanda. Mengetahui keterbatasan logistik dan sumber daya yang dimiliki, Cut Nyak Dien memperhitungkan dengan teliti jumlah persediaan logistik yang dimiliki agar dapat mencukupi kebutuhan seluruh rakyat yang turut berjuang.

Cut Nyak Dien juga seorang pemimpin wanita yang kharismatik dan penuh wibawa, ia tidak sungkan untuk memuji apabila dalam perjuangan kebaikan-kebaikan bermunculan. Namun, ia juga tidak takut untuk menegur dan menindak tegas apabila pejuang berkhianat dan membelot pada pihak Belanda maupun melakukan kesalahan dalam melakukan penugasan.

Film Cut Nyak Dien diakhiri dengan cerita yang penuh dengan intrik khas peperangan. Hingga perjuangan mencapai titik batas persediaan yang merupakan tonggak kekuatan pejuang Nangroe Aceh Darussalam, Teuku Umar memperjuangkan kelayakan dan nilai-nilai yang telah diperjuangkan oleh Cut Nyak Dien dengan cara membuat perjanjian dengan Belanda yang dianggapnya akan dipenuhi. Namun, dengan liciknya Belanda mengkhianati perjanjian tersebut untuk tetap mempertahankan Cut Nyak Dien di Nangroe Aceh Darussalam demi kepentingan kolonialisme dan menunjukkan kekuasaannya.

Di akhir hayatnya, pada tahun 1906, Cut Nyak Dien diasingkan ke Sumedang, Jawa Barat bersama dengan para pejuang lainnya dan dijadikan tawanan kolonialisme Belanda.

Secara garis besar, visualisasi Cut Nyak Dien digambarkan dengan efek dramatis yang luar biasa dengan latar kolonialisme Belanda. Pencahayaan dan pengaturan musik yang diterapkan dalam film Cut Nyak Dien yang digarap oleh para sineas Indonesia memberikan kesan yang kuat dan berkarakter dalam menggambarkan cerita kepahlawanan Cut Nyak Dien.

Tata busana yang dipilih juga tepat. Para aktor pemeran juga mampu memerankan karakter-karakter pahlawan nasional Bangsa Indonesia dengan penjiwaan yang tepat pada porsinya.

Sehingga, kesan Cut Nyak Dien sebagai pahlawan jihad fi sabilillah dalam kemerdekaan negara Indonesia, khususnya provinsi Nangroe Aceh Darussalam dapat terasa. Pemberian keterangan percakapan (subtitle) serta credit title juga memudahkan para pemirsa dalam memahami alur cerita film Cut Nyak Dien, sehingga khazanah ilmu-ilmu dan cerita sejarahnya dapat dicerna dengan baik, khususnya bagi para penikmat muda kaum millennial.

Tinggalkan Balasan

Loading…

0

Comments

0 comments

Putera Terbaik Bengkulu Muslihan Ds Meninggal Dunia, Rohidin Mersyah Do’akan Ini

Alumni HK-6 Fase Berdikari, Silaturahmi Tak Kenal Henti