in

Salah Kaprah, Nakes Bukan Garda Terdepan Mengatasi Pandemi COVID-19 !

DUUUAARRR…, KAMIS TANGGAL 7 JANUARI 2021, PENAMBAHAN TERKONFIRMASI POSITIP DIPROPINSI BENGKULU SEBANYAK 121 ORANG. MAKA TOTAL JUMLAH KASUS POSITIP DIBENGKULU SEBANYAK 3.940 KASUS.

Oleh: Nindyo Kusmanto,S.Ag Kordinator Tim Tanggap COVID-19 RKB Provinsi Bengkulu Pengurus/Relawan  BSMI Wilayah Bengkulu
Nindyo Kusmanto

Masih ada Pejabat di negeri ini ketika menyampaikan pendapatnya dimomentum berbagai acara/kegiatan dengan mengatakan bahwa Tenaga Kerja Kesehatan (Nakes) adalah Garda Terdepan mengatasi COVID-19. Padahal yang seharusnya menjadi Garda Terdepan dalam mengatasi/memutus mata rantai penyebaran COVID-19 adalah masyarakat.

Jika masyarakat disiplin dengan 3M (Memakai Masker, Menjaga Jarak, Mencuci Tangan dgn air yang mengalir) dan menjalankan pola hidup sehat, serta Pemerintah secara optimal menjalankan 3T, (Tracking, Testing, Treatment), serta konsisten dengan menjalankan 3T tersebut, maka upaya akan memutuskan mata rantai penyebaran virus COVID-19 akan berhasil/berkurang. Sedangkan posisi para Nakes adalah benteng terakhir dalam mengatasi/memutus mata rantai penyebaran COVID-19.

Jika Pemerintah sekarang hanya lebih fokus dan lebih mengutamakan memberikan Vaksin kepada para Nakes, tapi abai dengan Prilaku masyarakat yang tidak disiplin dengan Protokol Kesehatan, dan tidak agresif dengan pelaksanaan 3T. Sama saja artinya dengan memberikan peluang semakin mempercepat penambahan jumlah Korban dipihak Nakes menjadi Terkonfirmasi Positip, yang sekarang jumlahnya sudah lebih dari 500 orang menjadi korbannya.

Oleh sebab itu, justru para Nakes adalah orang-orang yang memiliki tingkat resiko tinggi Terkonfirmasi Positip COVID-19. Karena mereka berhadapan langsung dengan pasien yang Terkonfirmasi Positip COVID-19. Dan keadaan ini tidak akan berubah, malah akan semakin bertambah korbannya. Baik dari pihak para Nakes maupun masyarakat yang Terkonfirmasi Positip COVID-19.

Dipihak lain, kebijakkan untuk memberikan Vaksin kepada masyarakat, bukanlah hal yang tepat untuk memutus mata rantai penyebaran COVID-19. Karena khususnya di pulau Jawa dan beberapa wilayah lain penyebaran virus COVID-19 sudah tidak bisa ditelusuri lagi.

Kenapa ini bisa terjadi ? karena lemahnya dari awal pihak terkait/ pemerintah melakukan antisipasi dan melaksanakan Tracking/penelusuran terhadap orang-orang yang pernah kontak erat degan pasien yang Terkonfirmasi Positip COVID-19. Serta masih sangat kecilnya masyarakat melakukan Tes swaf PCR. Disebabkan kurangnya Sosialisasi dan Edukasi kepada masyarakat.

Disamping itu minimnya fasilitas kesehatan yang ada diberbagai rumah sakit diberbagai wilayah, juga menjadi masalah tersendiri. Sehingga diberbagai wilayah/tempat cukup banyak sample dari hasil pemeriksaan yg belum tertangani. Pada akhirnya menyebabkan semakin besar jumlah orang yang terpapar COVID-19 yang berstatus OTG (Org Tanpa Gejala).

Vaksin COVID-19 bukanlah obat. Tapi suatu cara untuk merangsang tubuh agar tubuh memiliki Kekebalan terhadap virus tertentu. (COVID-19)

Dipihak lain tidak semua masyarakat secara otomatis bisa di Vaksin. Karena seseorang bisa di Vaksin jika telah memenuhi syarat tertentu. Misalnya usia yg divaksin adalah orang yang sudah berusia 18 hingga 59 thn, tidak memiliki riwayat penyakit seperti Kanker, Jantung Koroner, Ginjal, Asma, Hipertensi, Diabetes, dll.

Vaksin COVID-19 tidak menjamin 100% seseorang bisa terbebas dari Terkonfirmasi Positip COVID-19. Hanya saja jika seseorg sudah divaksin kemudian Terkonfirmasi Positip, maka penanganannya akan lebih ringan dibandingkan jika belum divaksin.

Hal yang paling efektif dan efisien menurut penulis, dalam mengatasi dan memutus mata rantai penyebaran virus COVID-19 adalah melakukan Lockdown secara nasional/lokal, serta disiplin dengan penerapan Protokol Kesehatan bagi masyarakat, serta pola hidup sehat. Dan Pihak Pemerintah melakukan 3T secara optimal.

Perlu diketahui sesungguhnya seseorang sebelum maupun sesudah divaksin, harus tetap juga disiplin dengan Protokol Kesehatan dengan melaksanakan 3M.

Dan pemerintah segera menambah jumlah rumah sakit Rujukkan untuk pasien-pasien Covid.19 dengan menambah ruangan serta penambahan SDM kesehatan. Dan hal yang wajib juga harus dilakukan adalah melengkapi/menambah Peralatan/fasilitas Medis yang ada.

Sembari itu Sosialisasi dan Edukasi kepada masyarakat harus terus dilakukan secara masif dan berkesinambungan. Dengan demikian harapan untuk bisa mengatasi/mengendalikan penyebaran virus COVID-19 akan berhasil.(NK)

Tinggalkan Balasan

Loading…

0

Comments

0 comments

Presiden Islah Bertemu Div Huda Yayasan, Ustadz Sanwani Titip Jaga Visi Global Santri dan Alumni

Jajaki Kolaborasi, BAZNAS Provinsi Bengkulu Sambangi BAPASlu